Menuntut Ilmu di Bawah Kepungan Polusi

Menuntut Ilmu di Bawah Kepungan Polusi

Kamis, 17 Oktober 2019, 22:02
Meskipun asap dan debu beterbangan, pelajar SD tetap semangat belajar. (foto ist)

Rakyatterkini (Sawahlunto) - Pagi itu, Kamis (17/10), Hanum (12) bangun pagi seperti biasanya. Siswi kelas enam di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 19 Sijantang Koto itu berangkat dari kediamannya yang berada persis di depan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Ombilin, Kota Sawahlunto.

Sesampainya di sekolah, Hanum ternyata tak mengikuti proses belajar mengajar (pbm). Pasalnya, hingga Jumat (18/10), seluruh peserta didik diliburkan akibat dampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berdasarkan surat edaran Walikota Sawahlunto, Deri Asta.

Hanum mengaku, akibat polusi dan kabut asap, dirinya sering batuk-batuk. "Sekolah saya kotor, kelas kita kotor, teras rumah juga kotor," ungkapnya.

Remaji tersebut hanya menginginkan satu hal, sekolah yang tanpa asap dan debu. "Kami tak ingin lagi ada korban jatuh sakit akibat debu ini, cuma itu," ucapnya lirih.

Sementara itu, orangtua Hanum, Roza (38) menyebutkan, dirinya merasa khawatir dengan kualitas kesehatan terkait abu yang sudah masuk kemana-mana.

"Buktinya bisa dilihat di halaman rumah, setelah disapu maka debu akan datang lagi. Bukannya kami tak menyampaikan komplain ke pihak PLTU, mereka selalu beralasan mesinnya rusak, jika rusak yah harus diganti lah," tuturnya.

Senada dengan Roza, Aida Nurhayati (32) mengatakan, pada beberapa tahun lalu terjadi kesepakatan berupa kompensasi yang diberikan oleh pihak PLTU.

"Kesepakatan itu berupa diberikannya kebutuhan sembilan bahan pokok (sembako), namun hanya beberapa rumah atau kepala keluarga (kk) saja yang dapat bantuan tersebut," katanya. (*)

Kontributor: Muhammad Aidil

TerPopuler