Kelulusan Uji Kompetensi, Perguruan Tinggi Jangan 'Cuci Tangan'

Kelulusan Uji Kompetensi, Perguruan Tinggi Jangan 'Cuci Tangan'

Kamis, 17 Oktober 2019, 22:24
Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemristek Dikti) Yonny Koesmaryono, berikan pemaparan. (foto ist)

Rakyatterkini (Padang)
- Uji kompetensi menjadi salah satu parameter seorang akademisi dalam menghadapi dunia kerja yang semakin dinamis dan kompleks.

Namun, perguruan tinggi tak bisa pula terkesan 'cuci tangan' jika para almamaternya tak lulus dalam pelaksanaan uji kompetensi.

Direktur Jenderal (Dirjen) Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemristek Dikti) Yonny Koesmaryono, Kamis (17/10) mengatakann mahasiswa terus melakukan kreasi. Tidak hanya cerdas secara akademik, mahasiswa juga diharapkan cerdas spiritual dan emosionalnya. Jiwa kepemimpinan juga dianggap penting.

“Mahasiswa bisa mulai berwirausaha sejak kuliah. Kembangkan terus potensi yang ada. Riset membuktikan, kesuksesan seseorang sangat didukung oleh soft skill. Persentasenya sangat besar. Belajar dan teruslah belajar," sambungnya.

Pada kesempatan yang sama, pihaknya juga melakukan monitoring dan evaluasi (monev) terkait beberapa program pembelajaran dan kemahasiswaan pada perguruan tinggi di ruang sidang lantai 2 Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah X (Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau dan Jambi).

Yonny Koesmaryono mengatakan kegiatan ini dilaksanakan untuk mengukur dampak serta hasil pelaksanaan program pembelajaran dan kemahasiswaan di perguruan tinggi.

"Kegiatan yang kami monev adalah program yang mendapatkan bantuan langsung dari Ditjen Belmawa Kemenristekdikti," ucapnya.

Beberapa program yang dimonev adalah Penomoran Ijazah Nasional (PIN) dan Sistem Informasi Verifikasi Ijazah Secara Elektronik (SIVIL), bidikmisi, tracer study, MTQMN, uji kompetensi, Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) serta klinik SPMI.

"SPMI itu ibarat kualitas kendali perguruan tinggi dalam menciptakan budaya mutu. Jangan sampai setelah diundang ikut pelatihan peserta tidak melakukan apa-apa di kampus,” terangnya. (*)

Kontributor: Muhammad Aidil

TerPopuler