Balai Besar POM Padang Tarik Obat Ranitidin, Penyebab Kanker

Balai Besar POM Padang Tarik Obat Ranitidin, Penyebab Kanker

Kamis, 10 Oktober 2019, 10:10
Inilah obat ranitidin yang ditarik Balai Besar POM Padang. (net)

Rakyatterkini (Padang) - Balai Besar Pengawasan Obat-obatan dan Makanan (BBPOM) Padang menarik ratusan Ranitidin karena adanya kajian soal cemaran N-Nitrosodimethylamine (NDMA) pada produk obat yang mengandung ranitidin.

Total ribuan ampul dan boks Ranitidin dari rumah sakit dan produsen serta distributor ternama disita oleh petugas, pasca publikasi US Food and Drug Administration (US FDA) dan European Medicine Agency (EMA), lembaga sejenis BBPOM di Amerika Serikat dan benua Eropa beberapa waktu lalu.

Informasi yang berhasil dihimpun, di Sumatera Barat (Sumbar) terdapat tiga distributor besar yang diduga mengalami penarikan obat yang digunakan ketika asam lambung pada pasien dengan kondisi seperti heartburn dan maag.

"Tiga nama tersebut adalah PT Indo Farma Global Medica, PT Kimia Farma Cabang Padang dan PT Nursindo Cabang Padang," terang Kepala BBPOM Padang, Martin Suhendri, Kamis (10/9).

Jika dirinci, sebanyak 293 boks Ranitidin injeksi 25 mg/ML disita dari PT Indo Farma Global Medica dengan sumber pengadaan PT Indofarma Pusat.

Kemudian, 1.730 boks Ranitidin injeksi oleh PT Phapros diangkut dari PT Kimia Farma Cabang Padang dengan sumber pengadaan PT Kimia Farma Pusat.

Selanjutnya, sebanyak 1.349 boks Ranitidin injeksi oleh PT Phapros juga tak luput diambil petugas dari PT Rajawali Nursindo Cabang Padang.

"Ada tiga instansi pelayanan kesehatan yang diduga memiliki bukti penggunaan obat tersebut dan telah kami sita juga, seperti di RS Islam Ibnu Sina sebanyak 153 ampul dan RS Aisyah sebanyak 111 ampul," paparnya.

Selain dua rumah sakit tersebut, sarana pelayanan kesehatan lain yang mendapatkan hal serupa, diantaranya RS Tamar Medical Center, 1.523 ampul, RSUD Sijunjung 1.050 ampul dan RSUD Sungai Dareh sebanyak 17 ampul.

Dinukil dari laman BPOM melalui tribunnews.com, Ranitidin biasanya dikonsumsi untuk menurunkan produksi asam lambung pada pasien dengan kondisi seperti heartburn dan maag.

Produk ini tersedia baik versi obat bebas maupun yang harus melalui resep dokter. Beberapa pihak yang sudah menarik peredaran ranitidin adalah CVS, Walgreens, Walmart, dan Rite Aid di Amerika Serikat. Kanada dan Perancis pun telah menarik obat-obat tersebut. Bangladesh juga sempat mengeluarkan pelarangan sementara terhadap kegiatan impor, produksi, maupun penjualan ranitidin selama proses investigasi.

Negara-negara lain juga digadang-gadang akan menyusul keputusan ini. Setelah adanya peringatan dari US FDA dan EMA, Badan POM melakukan pengambilan dan pengujian beberapa sampel produk ranitidin.

Hasil uji menunjukkan bahwa sebagian sampel mengandung cemaran NDMA dengan jumlah yang melebihi batas yang diperbolehkan. Pengujian dan kajian risiko akan dilanjutkan terhadap seluruh produk yang mengandung ranitidin.

Berdasarkan hasil pengujian tersebut, Badan POM pun memerintahkan kepada Industri Farmasi pemegang izin edar produk untuk melakukan penghentian produksi dan distribusi.

Lima produk ranitidin yang terdeteksi mengandung NDMA. NDMA disinyalir sebagai zat yang bisa menyebabkan kanker atau bersifat karsinogenik.

Kelimanya itu diantaranya, Ranitidine Cairan Injeksi 25 mg/mL dengan pemegang izin edar PT Phapros Tbk, Zantac Cairan Injeksi 25 mg/mL dari PT Glaxo Wellcome Indonesia.

Kemudian, Rinadin Sirup 75 mg/5mL dari PT Global Multi Pharmalab, Indoran Cairan Injeksi 25 mg/mL dan Ranitidine cairan injeksi 25 mg/ML dari PT Indofarma. (*)

Kontributor: Muhammad Aidil

TerPopuler