Rawan Kecelakaan, KAI Sosialisasikan Perlintasan Sebidang di Duku

Rawan Kecelakaan, KAI Sosialisasikan Perlintasan Sebidang di Duku

Rabu, 18 September 2019, 16:20
KAI Divisi Regional II Sumatera Barat bersama instansi terkait melakukan sosialisasi di perlintasan sebidang. (foto aidil)

Rakyatterkini (Padang Pariaman) - Selama ini, perlintasan sebidang merupakan salah satu titik yang sering terjadi kecelakaan. Melihat fakta tersebut, jajaran PT Kereta Api Indonesia (KAI) Divisi Regional II Sumatera Barat (Sumbar) bersama instansi terkait melakukan sosialisasi di perlintasan sebidang antara Padang-Duku dan Padang-Bukit Putus.

"Kegiatan ini dalam rangka perhubungan beberapa waktu lalu dan peringatan hari jadi PT KAI. Beberapa saat lalu memang terjadi sering kecelakaan di jalur tersebut," kata Kadivre II PT KAI Sumbar, Insan Kesuma, Rabu (18/9).

Selama ini, sebutnya frekuensi kecelakaan kereta api di Sumbar tak setinggi di pulau Jawa dengan intensitas perjalanan yang cukup tinggi.

"Di Jawa itu, seperti Jakarta setiap dua menit sekali kereta api lewat, ketika palangnya belum dibuka sudah ditutup lagi, lebih tinggi ketimbang di sini," ucapnya.

Namun, selain perlintasan sebidang yang menjadi salah satu penyumbang kecelakaan, banyaknya masyarakat yang berdomisili di sekitar rel kereta api mengambil jalur pintas agar bisa keluar masuk dari kediamannya.

"Kita tidak beri izin mereka membuat jalur pintas itu, tak diberi izin pun tetap nekad dibuatnya dan itu membahayakan," tuturnya.

Insan mengklaim, selama tahun 2019 baru terjadi satu kali insiden kecelakaan di perlintasan sebidang Duku-Padang, dan berharap tak lagi ada kecelakaan serupa.

"Ada rencana untuk menertibkan warga yang membuat jalur sebidang di perlintasan kereta api, ini sedang kita susun bersama satuan kerja (satker) terkait, solusi saat ini adalah sosialiasi kepada masyarakat terlebih dahulu," ujarnya.

Perlintasan sebidang merupakan perpotongan antara jalur kereta api dan jalan yang dibuat sebidang dan muncul karena meningkatnya mobilitas masyarakat menggunakan kendaraan yang harus melintas atau berpotongan langsung dengan jalan kereta api.

Akibatnya, timbul masalah, yaitu terjadinya kecelakaan lalu lintas di kawasan tersebut.

Sesuai undang-undang (UU) nomor 23 tahun 2007 pasal 94 tentang perkeretaapian dinyatakan untuk keselamatan perjalanan kereta api dan pemakai jalan, perlintasan sebidang yang tidak mempunyai izin harus ditutup. Penutupan perlintasan sebidang dilakukan oleh pemerintah atau pemerintah daerah (pemda) setempat.

Divre II mencatat terdapat 25 perlintasan sebidang yang resmi dan 294 perlintasan sebidang yang tidak resmi.

Selama tahun 2019, Divre II mencatat telah terjadi 14 kali kecelakaan yang mengakibatkan tujuh nyawa melayang. Salah satu tingginya angka kecelakaan pada perlintasan juga kerap terjadi lantaran tak sedikit para pengendara yang tetap melaju meskipun sudah ada peringatan melalui sejumlah rambu yang terdapat pada perlintasan resmi. (*)

Kontributor: Muhammad Aidil

TerPopuler