Kualitas Udara di Sumbar Membaik, Namun Belum Merata

Kualitas Udara di Sumbar Membaik, Namun Belum Merata

Rabu, 25 September 2019, 17:59
Kondisi udara mulai membaik di beberapa daerah di Sumatera. (detikcom)

Rakyatterkini (Padang) - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pemantau Atmosfer (GAW) Koto Tabang, Agam mengklaim, Konsentrasi polusi partikulat (pm10) yang terukur di Stasiun GAW sudah menunjukkan angka 47 µgram/m3.

Angka tersebut berada di bawah ambang nilai ambang batas konsentrasi polutan partikulat yang dibolehkan berada di udara ambien yaitu 150 µgram/m3.

Artinya, kondisi udara di Sumatera Barat (Sumbar) berangsur membaik, namun pada beberapa tempat udara masih terlihat kabur meski jarak pandang di atas lima kilometer, karena hujan yang belum merata sehingga belum membersihkan semua partikel polutan di udara pada tempat-tempat tersebut utamanya pada wilayah dekat pantai, kata Kepala BMKG GAW Koto Tabang, Wan Dayantolis, Rabu (25/9).

Sebelumnya pada Minggu dan Senin awal pekan ini sebaran pm10 mencapai level maksimum dengan sebaran tertinggi pada wilayah timur dan perbukitan Sumbar.

Adapun pada pesisir dan pantai barat tingkat partikulat akibat sebaran asap berada pada level moderat.

Pada Selasa (24/9) kemarin, pm10 konsisten berada pada level menengah di bawah baku mutu. Membaiknya kondisi kualitas udara ini disebabkan adanya hujan yang terjadi mulai Senin (23/9) malam hingga pagi ini baik di wilayah Sumbar maupun pada daerah-daerah di luar Sumbar yang memiliki kejadian karhutla.

Karena sifat hujan yang bersifat mencuci udara sehingga partikulat polutan di atmosfer terbawa turun ke permukaan bumi, papar Wan.

Berdasarkan citra satelit Himawari-8 tidak terdeteksi lagi adanya asap di wilayah Sumbar, namun masih terdapat sebaran kecil pada beberapa wilayah di luar Sumbar.

Prediksi ke depan, berdasarkan model global dan adanya potensi curah hujan hingga beberapa hari ke depan, kondisi baik ini akan berlangsung hingga akhir pekan ini. Pembaharuan akan segera disampaikan jika parameter kualitas udara yang ada menunjukkan perubahan yang signifikan.

Seperti diberitakan sebelumnya, kualitas udara di Sumatera Barat (Sumbar) dinyatakan tak lagi sehat dan merata hampir di seluruh langit Ranah Minang.

 Konsentrasi polusi partikulat (pm10) yang terukur di Stasiun GAW sudah menunjukkan angka 260 µgram/m3.

Angka tersebut berada di atas nilai ambang batas konsentrasi polutan partikulat yang dibolehkan berada di udara ambien yaitu 150 µgram/m3.

Pantauan dari Satelit Himawari terlihat bahwa asap akibat kabut asap sudah merata di wilayah Sumbar dengan kondisi terparah di Sumbar bagian Timur.

"Terpantau paling pekat di Padang Panjang, Bukittinggi, Payakumbuh serta Sawahlunto," kata Wan Dayantonis.

Seperti diketahui, sebanyak 1.182 titik panas indikasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terpantau di wilayah Sumatera paling banyak di Provinsi Jambi sebanyak 499 titik.

Sebaran titik panas (hotspot) lainnya berada di Sumatera Selatan dengan 391 titik, Riau 198 titik, Kepulauan Bangka Belitung 40 titik, Lampung 33 titik, Kepulauan Riau sembilan titik, Sumbar delapan titik dan Bengkulu serta Sumatera Utara masing-masing dua titik.

Kondisi kualitas udara yang semakin menurun di Sumbar telah membuat sejumlah daerah meliburkan sekolah seperti di Dharmasraya, Sijunjung dan Tanah Datar. (*)

Kontributor: Muhammad Aidil

TerPopuler