Konsumsi BBM Turun Hingga 15 Persen di Wilayah Terdampak Karhutla

Konsumsi BBM Turun Hingga 15 Persen di Wilayah Terdampak Karhutla

Selasa, 24 September 2019, 14:04
Konsumsi BBM menurun akibat kebakaran hutan. (foto ist)

Rakyatterkini (Padang) - Dampak kabut asap yang berkepanjangan mulai terasa, dimulai dari aktivitas yang terhambat hingga menurunnya konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM).

Selama Riau diliputi asap, mobilitas masyarakat menurun. Sekolah diliburkan dan ancaman kesehatan, menyebabkan warga mengurangi berkendara. Konsumsi BBM menurun 10 hingga 15 persen.

Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Pekanbaru, Riau pada Selasa (23/9), menembus angka 500 dan sudah berada pada status bahaya.

Di tengah asap yang memadati, pekerja Pertamina berjuang menjaga kelancaran pasokan BBM dan elpiji. Serbuan asap membuat jarak pandang hanya 300 sampai 500 meter.

Sahrizal, awak mobil tangki (AMT) dari TBBM Sei Siak mengisahkan imbas asap pada pengiriman BBM.

"Saya biasa nyetir dua rit, sekitar 270 km ke SPBU di Rengat. Karena asap, jarak pandang terbatas. Jadi saya ekstra hati-hati dengan menyalakan lampu meski siang hari. Juga mengurangi kecepatan mobil tangki, di bawah rata-rata normal," ujarnya.

Untuk elpiji, penerimaan pasokan melalui kapal di jetty VI kilang Dumai dan jetty supply point Patradok Dumai berjalan sesuai jadwal. Namun demi keselamatan, proses lepas dan sandar dilakukan pada siang hari.

Pengiriman elpiji di 13 Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji (SPPBE) di wilayah Riau yang menggunakan mobil tangki skid tank, terhalang oleh terbatasnya jarak pandang.

Akibatnya, kecepatan skid tank pun harus  diturunkan dari rata-rata. Kondisi ini diantisipasi dengan pengiriman lebih dari satu ritase di beberapa SPPBE.

Meskipun demikian, rata-rata penyaluran elpiji 3 kg di Riau selama September sekitar 141 ribu tabung per hari. Jumlah ini meningkat dibanding rata-rata penyaluran pada Agustus sebanyak 117 ribu tabung per hari.

Pantauan di lapangan menunjukkan pasokan elpiji mencukupi kebutuhan masyarakat.

"Kami membekali pekerja Pertamina di Terminal BBM (TBBM) maupun depot elpiji dengan masker standar N95. Untuk menjaga stamina, diberikan makanan tambahan berupa vitamin. Kami juga sediakan air purifier di ruangan kantor dan oksigen bagi yang membutuhkan," tutur Roby Hervindo, Unit Manager Comm, Relationship and Corporate Social Responsilibity (CSR) Pertamina Marketing Operation Region (MOR) I.

Sebagian keluarga pekerja, juga sudah dievakuasi. Mereka dipindahkan sementara ke Padang, Medan maupun Jakarta.

"Walau asap menimbulkan kendala dalam operasional, namun tidak mengganggu kelancaran pasokan. BBM, elpiji dan avtur tersedia untuk memenuhi kebutuhan masyarakat," tutup Roby. (*)

Kontributor: Muhammad Aidil

TerPopuler