Kerusuhan Papua, IKM Papua Sebut 981 Jiwa Warga Asal Sumbar Jadi Korban

Kerusuhan Papua, IKM Papua Sebut 981 Jiwa Warga Asal Sumbar Jadi Korban

Selasa, 24 September 2019, 14:31
Kerusuhan di Wamena, Papua. (foto ist)

Rakyatterkini (Padang) - Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Ikatan Keluarga Minang (IKM) merilis setidaknya 981 jiwa menjadi korban terdampak kerusuhan di Papua, Senin (23/9).

Dalam keterangan tertulis ditandatangani Zulhendri Sikumbang selaku Ketua DPW IKM Papua, sebagian besar warga perantau merupakan pedagang, dan hanya beberapa orang yang menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN), prajurit Tentara Nasional (TNI) dan anggota Kepolisian Republik Indonesia (Polri).

"Banyak sekali toko dan rumah warga IKM yang dibakar, namun kami belum bisa melaporkan secara rinci satu persatu, karena belum ada laporan dari Pemerintah Daerah (Pemda) Wamena," katanya, Selasa (24/9).

Saat sekarang ini, sebut Zulhendri, masyarakat IKM sedang berada di sejumlah pengungsian, yaitu di halaman Mapolres dan Makodim setempat.

"Tak hanya dari IKM, tapi juga ada dari daerah lain. Bagi perantau yang tak memiliki rumah dan toko, mereka kehilangan tempat tinggal dan pekerjaan, kondisi warga IKM mengalami trauma," imbuhnya.

Sebelumnya, empat dari lima warga Sumatera Barat (Sumbar) dikabarkan tewas dalam kerusuhan di Waoma, Kabupaten Jayawijaya, Papua.

Dari informasi yang berhasil dirangkum, korban diketahui berasal dari Kabupaten Pesisir Selatan, tepatnya di Kampung Padang Cupak, Kenagarian Lakitan Utara, Kecamatan Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan.

"Mereka merupakan perantau di sana, meninggal diduga karena insiden pembakaran oleh massa," kata Wali Nagari Lakitan Utara, Afrizal, Selasa (24/9).

Ia menerangkan, lima korban diantaranya, Safrianto K (36), Jafriantoni (24), Hendra Eka Putra (22), dan istri Safrianto K, Putri (29) dan anaknya Riski (4), korban merupakan satu keluarga.

"Semua korban satu keluarga, Safrianto K, Jafriantoni dan Hendra Eka Putra adalah saudara kandung dan anaknya Riski. Sedangkan Putri istri dari Safrianto K masih kritis," terangnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Ikatan Keluarga Minang (IKM) yang ada di Papua.

Seperti diketahui, kerusuhan terjadi di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Senin (23/9), tak hanya merusak bangunan dan fasilitas umum, tapi juga  bentrokan yang mengakibatkan korban jiwa.

Komandan Kodim 1702 Jayawijaya Letkol Inf Candra Diyanto mengatakan, terdapat 16 orang warga sipil yang tewas dalam kerusuhan. Demonstran bersikap anarkistis hingga membakar rumah warga, kantor pemerintah, PLN, dan beberapa kios masyarakat.

Unjuk rasa yang berujung kerusuhan itu diduga dipicu oleh perkataan bernada rasial seorang guru terhadap siswanya di Wamena.

Hal itu membuat siswa marah hingga kemudian kabar itu meluas dan memicu aksi unjuk rasa pelajar di Kota Wamena. Aparat kepolisian dan TNI berusaha memukul mundur siswa demonstran dan kejadian berlangsung sekitar 4 jam.

Namun, demonstran tetap bertahan dan semakin membuat kerusuhan. Dikutip kompas.com, suara tembakan terdengar di mana-mana selama tiga jam.

Selain itu, semua warga di kota itu sudah mengungsi ke kantor polisi dan Kodim. Massa yang berunjuk rasa berusaha merangsek masuk ke pusat bisnis Wamena.

Wamena merupakan ibu kota Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua. Kota ini merupakan satu-satunya yang terbesar di pegunungan tengah Papua.

Di Wamena juga terdapat pusat bisnis, sehingga ketika terjadi kerusuhan, kawasan itu dijaga ketat aparat kepolisian.

Presiden Joko Widodo pernah dua kali mengunjungi Kota Wamena, yakni pada 28 Desember 2014 saat membicarakan persoalan-persoalan yang ada di daerah itu. (*)

Kontributor: Muhammad Aidil

TerPopuler