Kepala Bappenas Meminta Maaf pada Masyarakat Siberut

Kepala Bappenas Meminta Maaf pada Masyarakat Siberut

Selasa, 17 September 2019, 22:49
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)-Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Bambang Brodjonegoro. (foto aidil)

Rakyatterkini (Mentawai)
- Di hadapan sejumlah masyarakat Pulau Siberut, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)-Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Bambang Brodjonegoro meminta maaf kepada masyarakat Kepulauan Mentawai terkait status 3T yang dialami daerah tersebut.

3T yang merupakan singkatan dari Tertinggal, Terluar dan Terdepan adalah status yang diberikan kepada daerah dengan kompleksitas permasalahan sejumlah hal.

"Mentawai merupakan satu-satunya daerah di Sumatera Barat (Sumbar) yang masih menyandang status tersebut. Saya meminta maaf kepada masyarakat terkait dengan sejumlah permasalahan, salah satunya adalah penerangan listrik," ucap Bambang, Selasa (17/9).

Salah satu bentuk permohonan maaf pemerintah kepada masyarakat untuk memberikan penerangan yang layak adalah dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) di Pulau Siberut.

Keberadaan Biomassa ini, kata dia, selain terbarukan, juga menggunakan bambu yang kebetulan sumbernya dari masyarakat.

Artinya, masyarakat menjual bambu yang mereka tanam dan dibeli dengan harga Rp700 per kilogram.

"Jadi, manfaatnya, dia tidak hanya mendapatkan listrik, tapi juga penghasilan dari menjual bambu. Apalagi, ini pembangkit listrik pertama di Indonesia yang menggunakan bambu. Bahkan desa ini juga belum pernah dialiri listrik," ungkapnya.

Kendati sudah teraliri listrik, namun PLTBm ini baru mampu mengaliri listrik pada masyarakat selama 12 jam saja, namun ke depan akan digabungkan sehingga tercipta interkoneksi listrik.

"Rencananya ketiga pembangkit listrik itu akan digabungkan melalui jaringan listrik sehingga hasilnya akan maksimal diterima warga," katanya.

Bambang menyebut, pembangkit listrik terbarukan menggunakan bambu ini akan diperluas, terutama di seluruh Kabupaten Kepulauan Mentawai karena masih banyak desa yang butuh listrik.

"Sudah ada proyek yang akan berjalan di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan daya sebesar lima megawatt (mw) yang juga menggunakan kayu gamal (bambu)," katanya.

Ia menyebut, nilai investasi dari PLTBm itu senilai Rp150 miliar. Investasi itu merupakan hibah dari Millennium Challenge Account (MCA) Amerika Serikat dan kemudian akan dilanjutkan dan dikelola oleh Pemerintah Daerah.

"Nilai investasinya untuk ketiganya sekitar Rp150 miliar. Itu hibah dari MCA Amerika Serikat. Nanti dikelola pemerintah daerah (pemda)," pungkasnya. (*)

Kontributor: Muhammad Aidil

TerPopuler