'Halau Jerebu' Puisi Seorang ASN untuk Pemangku Kepentingan

'Halau Jerebu' Puisi Seorang ASN untuk Pemangku Kepentingan

Sabtu, 14 September 2019, 20:09
Maryati, kepala SMK Kehutanan Pekanbaru bacakan puisi untuk pemangku kepentingan. (Foto ist)

Rakyatterkini (Pekanbaru) - Maryati, Aparatur Sipil Negara (ASN) yang menjabat Kepala Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMK) Kehutanan Pekanbaru. Dia sangat peduli terhadap lingkungan.

Di hadapan pemangku kepentingan di Gedung Pauh Janggi, Pekanbaru, Riau pada Sabtu (14/9), dirinya membacakan sebuah puisi berjudul ‘Halau Jerebu,’ untuk mengungkapkan keprihatinan mendalam para guru terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang semakin parah di berbagai daerah.

"Puisi ini diharapkan dapat menggugah para pejabat daerah dan pusat agar menggunakan kewenangannya untuk menyelesaikan bencana asap ini," kata Maryati.

Maryati pun mengusulkan kepada Gubernur Riau pada Rapat Koordinasi (rakor) Penanggulangan dan Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan Provinsi Riau.

"Lahan gambut dengan kedalaman lebih dari tiga meter agar dikonversi menjadi hutan," ujar perempuan yang berasal dari Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta sebelum pindah ke negeri 'Laskar Bertuah' dua tahun silam.

Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo menyatakan bahwa asap adalah racun yang membahayakan generasi muda.

"Asap adalah pembunuh. Anda bisa menjadi pahlawan kemanusian tapi juga menjadi pembunuh potensial jika tidak melakukan apa-apa," tegas Doni dalam rakor yang dihadiri Gubernur Riau, Bupati dan Walikota seluruh Provinsi Riau.

Sebelumnya, Doni menyatakan pada bahwa bencana karhutla yang melanda beberapa provinsi persen akibat ulah manusia. Sehingga seluruh komponen dari Pemerintah Pusat, Gubernur, Bupati, Walikota, Camat, Kepala Desa, Ketua RT/RW dan Tokoh Masyarakat saling bersinergi dan bertekat agar Riau Bebas Asap.

Terkait dengan dampak karhutla di wilayah Riau, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di beberapa titik terpantau buruk. Pantauan ISPU di Duri Camp, Kabupaten Bengkalis menunjukkan kualitas udara yang berbahaya.

Secara berturut-turut di wilayah itu, seminggu belakangan ini kondisi ISPU sangat berbahaya.

Demikian juga, ISPU di beberapa titik lain pada kategori tidak sehat, seperti di  Kota Dumai, Kota Pekanbaru, Bangko, Petapahan, Minas, Duri Field, dan Libo. Bahkan, kabut asap telah berdampak hingga ke daerah lain, seperti Padang, Jambi dan Palembang.

Maryati membacakan puisi ‘Halau Jerebu’ di hadapan peserta rakor yang dihadiri Gubernur Riau, Panglima TNI, Asops Kapolri, Dirjen Gakkum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Pangdam Bukit Barisan, Kepala Pusat Meteo Publik BMKG, Satgas Karhutla Riau, bupati dan walikota seluruh Riau, tokoh masyarakat, perwakilan Lembaga Adat Riau, perwakilan perguruan tinggi dan sekolah, serta media massa.

Kata ‘jerebu’ dalam bahasa Melayu berarti debu, asap atau partikel-partikel kecil yang mencemari udara sehingga langit menjadi kabur.

Berikut apuisi yang ditulis Maryati pada 14 September 2019:

Halau Jerebu
Empat koma lima juta daratan habis kau rayu.
Muncul perkebunanan dan HTI di tanah melayu.
Kau bangun kanal untuk mengelabuhiku.
Lebih tiga meter kedalaman gambut kau buat abu-abu.
Kanal kering kau bakar jadi abu.

Di tanah melayu muncul jerebu-jerebu. Dua puluh dua tahun udah kotaku kau ganggu.
Membuat asa dan hatiku pilu.
Hilangkan musibah jerebu agar negeriku tampak ayu.

Buang jauh dariku satu koma delapan juta hektar sawit  tak bermutu.
Perkebunan dikubah gambut ubahlah fungsi menjadi hutanku.
Hilangkan dosamu usir jerebu itu.
Inilah langkahmu majulah jangan ragu.
Jauh jauh jerebu.

Kontributor: Muhammad Aidil

TerPopuler