Dampak Karhutla, Kualitas Udara di Sumbar Tidak Sehat Lagi

Dampak Karhutla, Kualitas Udara di Sumbar Tidak Sehat Lagi

Jumat, 13 September 2019, 15:16
Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit membagikan masker pada pengendara yang melewati ruas Jalan Sudirman Padang, Jumat (13/9). (Foto ist)

Rakyatterkini (Padang) - Pemerintah provinsi (Pemprov) Sumatera Barat menyatakan kualitas udara di Sumatera Barat tak lagi sehat dampak dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (Kadis LH) Sumbar, Siti Aisyah mengatakan usai membagikan sekitar 12 ribu masker kepada pengguna jalan raya di sekitaran jalan Sudirman, Kecamatan Padang Barat, Jumat (13/9) siang.

"Kualitas udara Sumbar berada pada PM 10. Artinya sudah masuk dalam kategori sedang dan tidak sehat," katanya.

Tambah Siti, dalam kasus karhutla, daerah yang paling mendapatkan dampak terbesar ada pada kawasan perbatasan dan lokasi yang menjadi kebakaran hutan.

"Stasiun parameter udara itu ada di Kota Padang, biasanya patokan kualitas udara di Sumbar ada di Padang, namun secara keseluruhan kualitas udara sudah tak sehat lagi," tambahnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar, Erman Rahman menyatakan bahwa sebanyak 12 ribu masker diberikan kepada masyarakat pengguna jalan raya di Kota Padang.

"12 ribu masker diserahkan, sisanya akan dikirimkan ke daerah yang terdampak langsung seperti Kabupaten Dharmasraya, Tanah Datar dan Sijunjung," ucapnya.

Sambung Erman, ada 12 titik karhutla di Sumbar, seperti di Dharmasraya, Tanah Datar, Limapuluh Kota, dan Pesisir Selatan.

"90 persen kebakaran di daerah terdampak itu sudah padam, sekarang tinggal pendinginan, seperti ada lima titik di Tanah Datar, Dharmasraya dan Limapuluh Kota serta Pesisir Selatan," terangnya.

Kabut asap yang terjadi sekarang sebutnya adalah dampak dari karhutla di Riau. Di Sumbar, Erman mengatakan ada 20 hektar lahan yang terbakar.

"Kesulitan petugas adalah memadamkan api ke lokasi kebakaran, mengingat lokasinya yang jauh dari pemukiman warga dan tidak bisa menggunakan armada pemadam kebakaran," tuturnya.

Karhutla terjadi karena adanya alih fungsi lahan dan kelalaian manusia juga menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya kebakaran.

"Sekarang ini musim kemarau, buang puntung rokok sembarangan saja bisa terjadinya kebakaran. Saya mengimbau kepada masyarakat agar tidak melakukan hal yang merugikan. Kalau melakukan pembakaran jangan terlalu fantastis atau tidak dilakukan, karena lahan kita ini didominasi gambut yang mudah terbakar," pungkasnya. (*)

Kontributor: Muhammad Aidil

TerPopuler